Open Nav
Pasar Ikan Tsukiji: Sebuah Orkestra Seafood

 

Di sela-sela mengikuti kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam kegiatan Roundtable Meeting on Industry, Business and Investment di Tokyo, 1-2 Juni, Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia Risyanto Suanda menyempatkan mengunjungi Pasar Ikan Tsukiji. Berikut catatan Dirut tentang salah satu pasar ikan ternama di dunia itu yang terletak di Tokyo.

 

 

 

 

TOKYO- Membayangkan tradisi makanan laut orang Jepang sambil menikmati sushi di warung kecil tapi dasyat di depan Pasar Tsukiji memang menjadi lebih mudah. Semua orkestra kegilaan orang Jepang terhadap makanan laut ditampilkan secara indah dan megah di Tsukiji. Dari mulai penyiapan produk yang akan di lelang, proses lelang, proses distribusi di pasar dalam (Tsukiji shijo) proses retail di pasar luar (Jogai shijo) hingga tersaji di meja makan di warung sushi ini.

 

 

Kenapa saya katakan indah dan mudah membayangkan semua itu? Pertama semua produk yang saya saksikan hari ini adalah produk perikanan yang berasal dari dalam dan luar negeri dengan kualitas terbaik. Baik dalam bentuk segar, beku atau hidup. Produk yang mereka impor, yang sudah menempuh perjalanan ribuan kilo, bahkan berbulan-bulan dengan kapal laut dan masih tersaji segar di depan mata. Artinya tidak ada tempat untuk produk yang buruk. Tidak ada saya temui kelas KW apalagi yang sudah buruk seperti yang saya lihat di pasar-pasar kita dengan ciri: mata merah, kulit kusam, insang memutih plus bau khas yang menyengat.

 

 

Kedua, semua proses dari mulai masuk ke pasar sampai keluar pasar dijaga rantai dinginnya. Dari mulai cold storage, suhu ruangan dan es. Kuncinya adalah ice flake. Bejibun dan tidak pelit menggunakan es. Di styrofoam, di bak, bahkan di tempat displainya di bawahnya ditaruh es.  Di mana-mana es. Bahkan pedagang eceran sudah menyiapkan es di dalam plastik untuk pembeli yang membawa pulang.

 

 

Ketiga, tidak ada sampah. Kebersihan adalah kunci. Tidak ada sampah berceceran. Semua disiplin untuk menjaga kebersihan tempat kerja dan lingkungan. Saya katakan, mereka benar-benar 'bersahabat" dengan sampah. Alias sampah dibawa kemana-mana sampai menemukan tempat sampah untuk membuang. 

 

 

Keempat, ini juga menakjubkan: tidak ada bau. Kalau orang seperti saya agak aneh memang ke pasar ikan dan tidak bau yang kadang-kadang dilengkapi juga dengan lalat di mana-mana. Rabu lalu saya baru berkunjung ke salah satu Pasar Ikan yang besar di wilayah timur. Jangan ditanya kondisi, tingkat kebersihan dan baunya. Semua ciri khas pasar tradisional kita yang semrawut, becek dan bau semua ada disitu.

 

 

Nah kondisi khas pasar ikan di kita itu sama sekali tidak ada di Tsukiji. Tidak ada ikan yang tergeletak didisplai di lantai. Tidak ada banjir darah ikan dimana-mana. Tidak ada jeroan dan sisik ikan di tempat sampah yang terbuka. Tidak ada sisa-sisa kepala ikan dan buntut ikan yang dibawa lari oleh kucing. Betul-betul tidak ada! Penanganan ikan yang higienis dan penanganan sisa pengolahan ikan dengan baik inilah yang buat Tsukiji tidak bau.

 

 

Untuk membuat sebuah pasar ikan seperti Tsukiji memang tidak mudah. Secara fisik bangunan Tsukiji adalah pasar lama. Tidak ada yang wah dari sisi fisik bangunan. Yang terpenting justeru karakter dan kebiasaan para pelaku usaha disini dalam menjaga kesegaran dan kebersihan produk perikanan.

 

 

Di sini penjual dan pembeli benar-benar menepatkan ikan pada marwahnya yang terhormat. Sebagai anugerah Tuhan yang harus ditangani dan dimakan secara terhormat. Adakah cara makan ikan yang lebih terhormat selain dimakan secara mentah? Yang kualitasnya pasti excellent. Ikan juga ingin setelah mati mereka dinikmati secara baik. Dielus-elus oleh sang koki. Ditempatkan di etalase kaca seperti di warung sushi yang saya makan saat ini.

 

 

 

Percaya atau tidak. Setelah menyaksikan semua orkestra Tsukiji ini, saya tiba-tiba menjadi pecinta sushi dan sashimi. Semua yang disajikan oleh sang koki saya makan. Semua jenis. Termasuk telur ikan. Mungkin karena lapar, atau karena di warung sushi di Tsukiji yang jelas kesegaran dan kebersihannya. Plus, embel-embel dari Yoichi san --yang menemani saya di Tsukiji-- yang bilang itu warung sushi terenak di Jepang. (*)