Open Nav
Idulfitri: Perayaan Kehidupan

Idulfitri bagaikan daya magis bagi siapa saja yang merayakan. Tua-muda bergembira dalam satu momen yang berlangsung setahun sekali di seluruh dunia. Di Indonesia, puluhan juta orang berpindah sementara untuk merayakan momen ini, pulang ke udik (kampung) alias mudik. Bertemu dengan orang tua, saudara, teman dan handai taulan.

 

 

Dari kacamata saya, Idulfitri bisa dilihat dari dua sisi yaitu peristiwa keagamaan dan sosial. Kedua peristiwa ini bisa berdiri sendiri, bisa juga saling mempengaruhi. Kadang sudah tidak bisa dibedakan apakah kegiatan perayaan tersebut termasuk ritual keagamaan atau bukan karena semua orang gembira, semua orang bahagia merayakannya.

 

 

Dari sisi ritual keagamaan, tentu saja Idulfitri ini puncak kemenangan ibadah puasa kita, puasa dari segala nafsu keinginan dunia baik yang bersifat fisik maupun psikis,  agar kita menjadi manusia yang lebih baik. Nah, selama sebulan penuh kita diajak untuk menahan segala hal yang bersifat fisik dan psikis tersebut. Apabila kita mampu melakukannya, kita berhak merayakan kemenangan itu, merayakan Idulfitri tersebut.  Yang mampu menilai kita sudah menang atau belum, sudah layak atau belum merayakan kemenangan ya hanya Gusti Allah SWT. Selebihnya kita hanya merasa berhak untuk ikut merayakannya, ikut bergembira dan itu  sah-sah saja. Idulfitri memang momen untuk semua pihak, yang tidak puasa juga tidak dilarang kok untuk ikut merayakan.Setidaknya bisa membuat ekonomi berputar, berbagi rejeki dengan berbelanja baju baru dan mempersiapkan ketupat lebaran lengkap dengan opor ayamnya.

 

 

Idulfitri dari kacamata sosial kemasyarakatan sangat banyak dimensinya. Idulfitri berarti mudik. Idulfitri berarti sungkem ke orang tua atau mertua. Idulfitri berarti pesta. Idulfitri berarti reuni. Idulfitri berarti silaturahmi dan tentu saja Idulfitri adalah libur panjang, meski dipotong cuti bersama.  Luas dan luwes dimensi sosial Idulfitri ini.

 

 

Bayangkan jutaan orang mudik dan bertemu handai taulan. Banyak interaksi terjadi. Keriaan yang dinanti banyak orang. Jakarta mendadak menjadi seperti kota mati. Susah mencari makan karena warung-warung tutup. Berganti dengan pemandangan antrian panjang kendaraan di rest area tol. Membludaknya pengunjung di tempat wisata dan tentu saja peredaran uang yang menurut Bank Indonesia bisa sampai ratusan triliun, wow.

 

 

Bagaimanapun kita memaknai Idulfitri, dari sisi Ilahiah atau sosial, Idulfitri adalah perayaan kita sebagai umat manusia di mata Tuhan dan sesama. Perayaan itu identik dengan rasa syukur, berterima kasih atas segala nikmat yang kita peroleh. Di situlah letak hakiki Idulfitri, bersyukur dengan segala rejeki fisik dan non fisik yang sudah kita nikmati dalam setahun penuh sampai kita bertemu Idulfitri berikutnya.

 

 

Yang namanya bersyukur, tentu akan membuat kita senang. Nah, suasana senang itulah yang harus kita bawa dalam menjalani segala aktifitas setahun berikutnya. Senang beribadah, senang bekerja, senang berinteraksi dengan sekitar. Jadikan diri kita menyenangkan sehingga membawa berkah dimanapun kita berada. Bukannya membuat senang orang lain juga merupakan amal kebaikan? Dan siapa tahu banyak hal besar yang bisa kita hasilkan dari menciptakan suasana senang di sekitar kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta, 21 Juni 2018
Risyanto Suanda