Open Nav
Memutus Lingkaran Setan

 

 

Kemiskinan kadang membuat nilai-nilai kemanusiaan menjadi tereduksi, jatuh ke titik nadirnya. Kemiskinan identik dengan ketidakberdayaan secara sosial dan ekonomi, tidak memiliki kemampuan untuk mengakses sumberdaya ekonomi, ketidakmampuan untuk menikmati anugerah Illahi di dunia ini.

 

Coba kita berhenti sejenak dan melihat sekitar kita, berapa banyak hari ini manusia di sekitar kita yang tidak bisa menikmati indahnya hari? Menikmati angin sepoi sambil menyeruput secangkir kopi hitam lengkap dengan pisang gorengnya? Menikmati waktu dengan orang-orang tercinta karena terpisah jarak demi kehidupan anak istrinya? Tidak mampu menaklukan jarak karena tidak berdaya membeli tiket pesawat? Banyak, banyak sekali.

 

Kemiskinan seperti lingkaran setan, terus berputar dari generasi ke generasi. Karena memang ketidakberdayaan itu bisa menular, pola pikir orang tua yang diwarisi anaknya, etos kerja yang ditiru generasi berikutnya, bahkan kepasrahan yang dianggap sebagai kewajaran dalam kehidupan, kekalahan yang mereka anggap sebagai bagian dari garis tangan mereka terlahir ke dunia.

 

Tak heran di mana-mana terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan. Apalagi kalau kita bicara keadilan dalam memberikan kesempatan yang sama setiap individu untuk maju, faktor keturunan, status sosial ekonomi, menjadi faktor pembeda. Faktor-faktor ‘X’  itu ada, pintar atau bodoh urusan belakangan.

 

Bagaimana dengan pendidikan? Apakah pendidikan mampu memutuskan lingkaran setan itu? Jawabnya bisa ya dan tidak. Sama seperti pertanyaan, apakah orang pintar dan berpendidikan sudah pasti akan sukses? Pendidikan penting, tapi harus dilengkapi dengan karakter untuk mengejar mimpi. Determinasi untuk meraih kesuksesan secara terus menerus, dan membangun karakter ini yang tidak mudah, butuh minimal satu generasi untuk merubah mindset sebuah bangsa dari loser  menjadi winner.

 

Setiap penyuka sejarah pasti terpesona dengan perjuangan para pendiri bangsa dalam merubah pola pikir rakyat kita, dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka. Bagaimana mereka mengerahkan seluruh pikiran, tenaga, waktu, harta bahkan nyawa secara bersama-sama untuk membangunkan bangsa ini dari tidur panjang penjajahan. Dan ketika kesadaran akan hak kemerdekaan menjadi keniscayaan, penjajahan yang sudah berlangsung berabad itu lenyap dalam sekejap. Kesadaran kolektif akan kebangsaan itu yang membuat bedil dan peluru para penjajah menjadi tak berarti, tidak lagi ditakuti.

 

Hari ini tantangan kita tidak kalah berat. Membangunkan masyarakat kita dari ((nina bobo)) kekayaan sumberdaya alam, menjadi bangsa yang kompetitif secara pola pikir dan etos kerja. Mengunah keunggulan sumberdaya alam menjadi keunggulan sumberdaya manusia. Dibutuhkan kesadaran dan kekuatan kolektif untuk kerja besar ini, dari level negara hinggal level individu.

 

Kesadaran bahwa kesuksesan itu hak segala bangsa dan keindahan dunia itu hak segala individu, harus ditanamkan sejak dini sampai terpatri di alam bawah sadar masyarakat. Kampanye sadar sukses ini harus dibarengi dengan penyiapan suprastruktur dan infrastruktur yang mendukung kesuksesan seperti: akses pendidikan yang berkualitas tapi mudah dan murah, akses kepada pekerjaan yang fair dan kompetitif, akses kepada kehidupan sosial kemasyarakatan yang manusiawi dan tentu dengan segala infrastruktur fisik penunjangnya dari mulai gedung, jalan, pelabuhan, bendungan, irigasi, sarana komunikasi, sarana transportasi dan seterusnya.

 

Ketika pola pikir dan pola kerja sudah berubah dengan segala infrastruktur pendukungnya, dibutuhkan pemimpin yang mampu mengorkestrasi itu semua. Mengatur, mendampingi dan berkorban agar semua faktor tadi mampu menjadi karya musik kehidupan yang agung dan lewati jaman, seperti salah satu cita-cita awal berdirinya bangsa ini, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

15 Juli 2018
Suatu pagi, dengan kopi yang sama
Risyanto Suanda