Open Nav
Update Aktivitas Brigade Muda di Tahuna : Produksi Tuna Loin

Jakarta, 11 Februari 2016 – Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Perikanan Indonesia (Perindo) Syahril Japarin pekan lalu mengunjungi salah satu bakal unit bisnis penangkapan dan pengolahan ikan yang berada di  Kota Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Bapak Syahril Japarin berada di Tahuna dua hari pada Sabtu (30/1/2016) hingga Minggu (31/1/2016).

 

Dirut Perum Perindo mendatangi Tahuna untuk menilik perkembangan terbaru aktivitas penjajakan kegiatan bisnis penangkapan dan pengolahan ikan yang tengah diupayakan oleh beberapa ‘Brigade Muda’ atau pegawai muda Perum Perindo. Kemudian Dirut Perum Perindo sempat mengunjungi Unit Pengolahan Ikan (UPI) Dagho bersama tim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

Selain itu, Bapak Syahril Japarin juga berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Sangihe, Ir. Felix Gaghaube, M. Si. Kepulauan Sangihe merupakan daerah yang kaya akan biota laut bernilai ekonomis tinggi khususnya ikan tuna dan ikan kerapu. Ikan tuna dari Sangihe sudah dikenal kualitasnya Tidak heran jika ikan tuna di Sangihe menjadi incaran nelayan pemburu tuna baik dari dalam maupun nelayan dari Filipina sebab perairan laut Kepulauan Sangihe berbatasan langsung dengan negara tersebut.

 

Perum Perindo tengah menggali berbagai peluang kegiatan bisnis produktif di Tahuna seperti penangkapan ikan dan pengolahan ikan tuna. Hal tersebut merupakan upaya menangkap peluang dari kekayaan alam Sangihe dengan potensi ikan tuna berkualitas ekspor namun pemanfaatannya untuk masyarakat Indonesia belum optimal.

 

‘Brigade Muda’ di Tahuna yang digawangi oleh Jerri Srinur Eka Saputra dan Wahyu Herli pada  4 Januari 2016 berhasil melakukan proses produksi perdana tuna loin atau olahan tuna segar yang telah melalui serangkaian proses mulai dari sortasi, pemotongan kepala-sirip-ekor, pencucian, pembuangan kulit, hingga pembuatan daging loin yang dikemas beku (frozen).

 

 

Produksi perdana tuna loin tersebut menggunakan bahan baku 3 ekor tuna dengan berat total sekitar 187 kg. Dari 3 ekor tuna dengan bobot menyamai orang dewasa tersebut kemudian menghasilkan loin tuna seberat 91,82 kg dengan grade B menjadi 12 potong loin.


Tim kemudian mengirim sampel loin tuna ke Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan moda transportasi kapal laut. Ikan dibawa dari Tahuna dengan kapal laut pada malam hari supaya bisa sampai di Manado pada keesokan pagi. Kemudian sampel tuna loin diserahkan ke konsumen yaitu sebuah perusahaan di Bitung menggunakan moda transportasi darat. Selama proses pengangkutan darat, loin tuna dikemas dalam wadah fiber berukuran 200 liter dan diberi es.

 

 

Ke depannya, tim berupaya terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dengan melakukan perbaikan sarana dan prasarana produksi sebagai tindak lanjut dari inspeksi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara untuk memperoleh Sertifikasi Kelayakan Pengolahan (SKP) dan Sertifikasi Hazard Analysist and Critical Control Points (HACCP). Kedua sertifikasi tersebut terkait dengan upaya memenuhi syarat dokumen ekspor tunaloin. 


Tim di Tahuna juga berupaya mencari bahan baku berkualitas tinggi dengan harga yang bagus untuk bisnis. Tim memerlukan fasilitas kendaraan untuk menjunjang kelancaran aktivitas bisnis di Tahuna. Tantangan lainnya yang dihadapi saat ini yaitu melambungnya harga ikan karena banyak nelayan yang tidak melaut akibat cuaca ekstrim seperti angin kencang.