Open Nav
Disiplin Sebagai Kunci Kemajuan Bangsa

 

Menarik apa yang dikatakan oleh Pak Tumilan, supir rental di Yogya kemarin. Dia berkata negara-negara maju, yang hebat dan kaya itu negaranya tapi warganya tidak, malah cenderung menderita. Kerja keras siang malam tanpa membuat mereka menjadi kaya, hanya cukup untuk hidup layak saja dalam arti sandang, pangan dan papan.

 

Bahkan sekarang banyak kecenderungan di negara maju urusan papan pun menjadi masalah. Pekerja-pekerja mereka banyak yang tidak mampu memiliki rumah selamanya, seumur hidup hanya jadi penyewa, itupun di apartemen yang disubsidi pemerintah.

 

Pendapat Pak Tum itu berdasarkan pengalamannya pernah jadi TKI di Korea Selatan selama 4 tahun. Dia bekerja di pabrik pembuatan gearbox untuk Hyundai motor.

 

Pak Tum mengamati orang-orang Korea memang disiplin dan pekerja keras dengan pendapatan yang hampir merata. Jadi, jarang sekali iri satu sama lain. Mereka bekerja fokus saja tanpa melihat kiri kanan karena memang secara ekonomi mereka hampir sama semua. Fenomena ini juga ditemui di negara-negara maju lainnya di Asia seperti Jepang dan Taiwan.

 

Saya tanya ke Pak Tum, jadi kunci kemajuan sebuah negara apa pak? Dia dengan tegas menjawab DISIPLIN. Iya betul, saya setuju dengan jawaban dia. Disiplin itu kunci. Apa yang dicapai oleh Jepang dan Korea Selatan hari ini adalah buah kedisiplinan, bagaimana mereka disiplin dalam memanfaatkan waktu dalam berbagai bidang.

 

Disiplin dalam bekerja dan disiplin dalam bermasyarakat. Tak heran, di negara-negara ini jarang terlihat polisi di jalan-jalan tapi tingkat pelanggaran dan kejahatan sangat kecil. Semua orang sibuk bekerja dengan urusannya masing-masing, ngga ada waktu ngerumpi dan leha-leha diujung gang yang berujung tawuran masal dan mabuk-mabukan.

 

Memadukan antara kekuatan negara dan kebahagiaan individu-individu di dalamnya memang tidak mudah. Ketika setiap individu dijadikan jadi alat produksi barang dan jasa di sebuah negara untuk mendukung kemajuan negara yang pada akhirnya  berkontribusi kepada pemasukan negara berupa pajak, maka bisa dipastikan ketika produktivitas bangsa itu sangat tinggi, negara akan menerima pemasukan lewat pajak yang luar biasa besar. Itulah yang membuat negara menjadi kaya.

 

Pertanyaannya, apakah setelah negara kaya maka mampu mendistribusikan kembali kekayaan itu dalam bentuk pembangunan yang bisa membahagiakan masyarakatnya?

 

Negara kaya yang tidak mampu membahagiakan warganya memang sebuah simalakama. Untuk mempertahankan tingkat kompetisi mereka diantara negara-negara lain di dunia dibutuhkan kemampuan, disiplin dan kerja keras warganya.

 

Hal itu kadang membuat masyarakat terjebak menjadi alat produksi semata, kehilangan sisi humanis mereka, menjadikan mereka bangsa setengah robot. Dari bangun tidur hingga rehat kembali mereka hanya memikirkan kerja dan kerja.  Bahkan di beberapa kasus di Jepang ada orang yang mati karena kelelehan bekerja.

 

Mati karena bekerja? Iya, itu terjadi di Jepang. Andai berita ini ada di republik ini, orang akan bertanya-tanya sekaligus heran kayaknya. Masa sih ada orang mati karena kelelahan bekerja?

 

Di kita berita kematian diisi oleh orang yang mati karena minuman oplosan (sampai dibuat lagunya), mati kecelakaan bus karena supirnya ugal-ugalan, mati ketabrak kereta karena nylonong melewati palang pemberhentian, mati karena hal lain yang pada dasarnya karena kebodohan dan ketidakberaturan.

 

Disini nyawa terasa murah, kematian akibat hal-hal konyol dan lucu menjadi hal yang biasa. Satu kali saya membaca berita anak-anak SMU di sebuah kota mati minum minuman oplosan.

 

Lucunya, mereka mati di kuburan. Iya, karena bolos sekolah, mencari tempat sepi untuk minum-minuman, yang dipilih kuburan. Cara yang aneh dan lucu untuk memilih tempat kematian. Ironis memang, tapi itu yang terjadi.

 

Berita kematian akibat oplosan tidak terhitung. Sepertinya berita-berita kematian itu tidak memberi efek jera, malah kemudian terdorong minum oplosan? Yang namanya oplosan disini benar-benar bisa bikin akal waras geleng-geleng kepala. Bayangkan, yang dicampur adalah air, alkohol murni, minuman penambah stamina, gerusan obat nyamuk bakar, kadang masih ditambah solar.

 

Ini orang-orang sedang membuat minuman untuk mabuk atau bahan bakar roket? Luar biasa memang, uji nyali juga kayaknya. Tapi kok ya pertaruhannya nyawa, yang hanya satu dan gak ada serepnya itu.

 

Membayangkan Indonesia yang katanya akan menjadi negara 5 besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030, dan itu hanya sekitar satu dekade lagi, tidak lama.

 

Mungkinkah dalam waktu 10 tahun, mampu membangun sumberdaya manusia yang kompetitif dan disiplin? Bahkan dengan program pendidikan dan penguatan karakter yang jelas dan sinambung pun kita memerlukan setidaknya 30 tahun untuk membentuk sumberdaya manusia yang handal. Apalagi di kita sangat terkenal dengan program tambal sulam dan berubah-ubah, kayaknya masih jauh panggang dari api.

 

Mungkin di 2030 itu kita memang menjadi 5 besar kekuatan ekonomi dunia. Tetapi, lebih karena kita memiliki banyak sumberdaya alam dan banyak jumlah manusianya yang lebih merupakan pasar dibandingkan produsen.

 

Iya, saat itu penduduk kita mungkin sudah menyentuh hampir 300 juta. Pasar yang menggiurkan bagi segala macam produk yang notabene diproduksi oleh negara lain.

 

Coba kita lihat di sekeliling kita, berapa banyak produk yang kita pakai dan diproduksi di dalam negeri? Kalau saya yang pasti diketahui diproduksi dalam negeri adalah baju yang dijahit oleh penjahit saya di Pasar Baru, Pak Haji yang semakin tua itu.

Garuda Indonesia Lounge
17 September 2018
Risyanto Suanda